BEGINI PESONA “NEGERI DIAWAN” NYA KOTA KELAHIRAN B.J HABIBIE

IMG_20170423_105103_980

Lagi-lagi keindahan alam Indonesia tak henti menampakkan pesona keindahannya. Kali ini tepatnya di Kota Kelahiran Presiden RI Ke-3 Bapak B.J Habibie, Kota Parepare Provinsi Sulawesi Selatan. Kota Parepare mulai dikenal dengan objek wisata pantai dengan keindahan sunsetnya dan monumen cinta sejati habibie ainun yang sangat fenomenal.

Namun kali ini saya dan beberapa teman sedikit menjauh dari objek wisata pantai dan pusat perkotaan, kami akan meng-explore sebuah destinasi baru yang berada di pegunungan Kota Parepare dimana terdapat Sebuah Negeri Diawan. Salah satu objek wisata di pegunungan Kota Parepare yang masyarakat setempat menyebutnya Sokkang Matoa.

Pertama kali mendengar nama Sokkang Matoa kamu pasti bingung artinya apa ya?? Sokkang Matoa berasal dari bahasa bugis yang artinya Mendorong Mertua, Konon katanya tempat tersebut pernah seorang anak mendorong mertuanya ntah dengan motif apa tapi hingga saat ini cerita tersebut belum ada yang dapat menceritakan secara detail kisah tersebut.

Menuju ke Sokkang Matoa dari pusat kelurahan wattang bacukiki ditempuh dengan berjalan kaki dengan jarak 3 km melalui objek wisata Batu Kiki’E lokasi Festival Mallipa Parepare. Sepanjang 3 km itu kita akan melakukan pendakian yang sedikit melelahkan, tapi rasa lelah itu akan hilang ketika kamu disuguhkan keindahan alam Kota Parepare dari ketinggian dan lautan luas yang membentang tak berujung sepanjang perjalanan menuju ke Sokkang Matoa.

Beristirahat sejenak di tengah jalan menuju Sokkang Matoa, ada rutinitas warga setempat yang tak biasanya kita lihat diperkotaan,  beberapa pengendara motor bebek yang telah dimodifikasi akan sering lalu lalang menuju ke pegunungan dengan menggandeng beberapa jerigen dan tidak lama kemudian mereka akan turun kembali dengan jerigen yang telah terisi dengan tuak. Yang menjadi keunikan tersendiri adalah keahlian para pengendara motor melalui jalan yang sangat sempit dan terjal menggunakan motor bebek biasa dengan ban yang diikat dengan rantai besi. Unik kan!!!

Sepanjang jalan jika beruntung, kamu akan menemukan beberapa monyet sedang bermain di pepohonan serta bunyi lonceng sapi milik warga setempat yang tidak terlihat batang hidungnya…(sok mistis).

IMG_20170424_200323_121
Bersama Sekretaris Kecamatan Bacukiki dan Ibu Nanna

Tak terasa berjalan sepanjang 3 km akhirnya kami tiba di lokasi peristirahatan yang lokasinya sekitar 100 m lagi dari spot yang view nya lebih keren. Disini kami sempat bertemu dengan teman-teman pendaki dari Universitas Muhammadiyah Parepare yang akan ke Gunung Nepo.

Waktu menunjukkan pukul 17.12 WITA dan itu pertanda bahwa senja mulai terlihat. Dengan kondisi yang sudah lelah mendaki, kami sempatkan beristirahat sejenak walaupun jarak tinggal 100 m lagi, ini dikarenakan 100 m yang akan kami tempuh tingkat kemiringannya akan sedikit lebih sulit didaki.. dan setibanya diatas, kamu akan melihat keindahan sunset dihiasi panorama pegunungan dan perkotaan yang memanjakan mata, angin berhembus dengan kelembutannya. Sebuah panorama alam yang sangat indah dan tak hentinya kami bersyukur kepada Sang Pencipta telah menciptakan alam yang mengagumkan seperti ini.

Menjelang malam hari, kami mulai mempersiapkan tenda istirahat, makanan dan tenda untuk shalat berjamaah. Suasana berbeda seketika berubah ketika matahari mulai tenggelam dan dari tempat ini kita dapat melihat hamparan cahaya perkotaan berkelap-kelip, disisi lain kita dapat melihat gugusan bintang yang menghiasi langit malam dan barengi lantunan musik akustik tentang alam. Kekaguman atas keindahan alam yang disuguhkan Kota Kecil ini membuat kecintaan kami akan negeri sendiri semakin bertambah.

Tak sampai disitu, suasana menjelang tengah malam mulai berbeda dengan munculnya awan-awan bergerak tepat dibawah kami yang mulai menutupi cahaya lampu perkotaan. Tak beberapa lama kemudian seakan kami berada diantara awan-awan tebal dibarengi udara yang semakin dingin.

After the Break,, kami sudah terbangun pukul 04.30 Wita, berharap dapat juga melihat matahari terbit namun yang ada ternyata kami tepat berada diantara awan-awan bahkan seakan berada diatas awan. Alangkah indahnya Ciptaan-Mu Tuhan!!!

Persiapan pulang tentunya tak lupa kami memungut kembali sampah-sampah di lokasi Sokkang Matoa.

Pesan bagi para pendaki :

  • memungut sampah-sampah dan membawanya turun untuk dibuang ke tempat sampah agar Alam Indah ini tidak tercemar dengan sampah sisa makanan dan minuman kalian.
  • bawa air minum sebanyak dan semampu kalian karena tidak ada mata air yang dekat dari lokasi tersebut.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s